Showing posts with label Cerita Renungan inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Cerita Renungan inspiratif. Show all posts

Sunday, 12 June 2011

6 Pertanyaan yang Menyadarkan


Tulisan Ainna - Suatu hari seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.

Pertama.
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?"
Murid-muridnya ada yang menjawab..."orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya". Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?"

Murid-muridnya ada yang menjawab..."negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang". Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapapun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini ?"
Murid-muridnya ada yang menjawab..."gunung", "bumi", dan "matahari". Semua jawaban itu benar kata Sang Guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).

Pertanyaan keempat adalah "Apa yang paling berat di dunia ini ?"
Di antara muridnya ada yang menjawab..."baja", "besi", dan "gajah". "Semua jawaban hampir benar", kata Sang Guru, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".

Pertanyaan yang kelima adalah "
Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan". "Semua itu benar...", kata Sang Guru, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".

Lalu pertanyaan keenam adalah "
Apakah yang paling tajam di dunia ini ?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !". "(hampir) Benar...", kata Sang Guru , tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.




Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN
senantiasa belajar dari MASA LALU
dan tidak memperturutkan NAFSU ?
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita ?

Friday, 3 June 2011

Cintai aku Hari ini ..

Hari ini mungkin akan ada tangis lagi. Walau sampai habis air mata, tapi tak mengapa. Karena aku mengiba cinta.


Pernah merasakan kerinduan yang teramat sangat? Kerinduan untuk mendapatkan cinta. Saat itu seolah hati merana tak berjiwa. Seperti hampa. Tak berdaya. Namun kehidupan ini memaksanya untuk tetap ada.


Kemarin, saya melihat seorang anak menangis di hadapan ibunya. Ia sepupu saya sendiri. Beberapa menit sebelum tangisannya, si ibu memarahinya. Dan hampir juga memukuli. Baru kutahu bahwa si ibu telah meninggalkannya seharian penuh. Entah ke mana. Ia ditinggal di rumah hanya berdua dengan pembantu. Seperti biasa setiap kali ibunya pergi. Ibunya berkata, ia makin hari makin nakal. Baginya, bila ia telah sanggup menyampaikan rasa, hari itu ia rindu ibu.


Setiap diri kita pasti butuh cinta. Dan kebutuhan itu terlihat nyata dari perilaku kita, ataupun tersembunyi lewat kata. Entah dinyatakan secara jelas, entah sekedar tersirat hadirnya. Mungkin pula hanya berupa rasa rindu yang menggelora tanpa kuasa meminta. Cinta itu fitrah adanya.


Beberapa waktu lalu, saya pernah berselisih dengan seorang sahabat yang telah saya kenal semenjak sepuluh tahun lamanya. Menurut saya, ia telah melakukan kesalahan, dan saya menegurnya. Menurutnya, ia hanya mengikuti kata hatinya, dan tak rela atas teguran saya.


Saat itu saya berpikir, kalau hari itu tak saya tegur ia, maka saya telah berdosa karena telah membiarkannya larut dalam perasaannya sedang ia tak memperhatikan lagi batas perilakunya. Saya tak lagi sempat berpikir bahwa mungkin saja ia telah salah menangkap maksud saya. Padahal saya hanya ingin memberitahunya sesuatu, bahwa saya cinta. Semua perkataan saya, adalah cinta saya kepadanya.


Seringkali tak sanggup diri kita untuk memperhatikan lagi rambu-rambu dalam bercinta. Oleh sebab perasaan itu telah kuat adanya. Otak ini serasa beku tak kuasa, sedang hati telah terguratkan olehnya.


Ada seorang istri yang marah pada suaminya. Setiap kalimat yang keluar darinya, tak lain hanyalah cercaan belaka. Ia berkata, tak lagi ada rasa percaya. Kita yang mendengarnya, mungkin akan berpikir bahwa ia tak lagi cinta. Tetapi nyatanya tak seperti itu. Sebab waktu akan membuktikan bahwa rasa itu tetap ada. Saat suaminya jatuh sakit, terlihat dari kecemasannya. Saat suaminya terlelap lelah dalam tidurnya, ia memperhatikan dan setia di sampingnya.


Kadangkala, kalimat yang kita ucapkan tak melulu mewakili perasaan yang sebenarnya. Seringkali hati lah yang bisa berbicara, namun mulut ini tak sanggup mengutarakannya. Keinginan untuk dicintai itu telah terpendam jauh di pelosok kalbu.


kita telah melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta. Dari ayah dan ibu kita, teman dan sahabat, suami, anak, istri, dan siapa saja yang dekat dengan diri kita..

Hujan Turun Lagi !!

Musim hujan datang lagi. Entah itu pagi, siang, sore ataupun malam, air dari langit itu seolah tanpa bosan mengunjungi bumi. Seperti sore ini, tanah di halaman depan sudah tergenang air meski hujan tidak terlalu deras. Di balik jendela kamar, anak-anak kecil berlarian sambil bersorak riang. Ada yang bermain kapal-kapalan, ada yang menunggu kucuran air di bawah atap rumah, dan ada pula yang berdiri manis di bawah payung sambil memperhatikan teman-temannya bermain. Mereka tampak bergembira. Tak ada yang mereka khawatirkan. Bahkan, mereka sepertinya tidak takut terserang flu atau demam. Bahagia sekali kelihatannya.

Saya jadi teringat akan masa kanak-kanak saya. Waktu itu, saya sangat menyenangi musim hujan karena pada saat-saat itulah saya merasa sangat dekat dengan ibunda. Bagaimana tidak, di saat udara begitu dingin menusuk tulang, tidak ada lagi kenyamanan yang saya rasakan selain membenamkan diri dalam hangatnya pelukan ibunda. Terlebih lagi jika suara petir tiba-tiba menggelegar memecah keheningan angkasa, pelukan ibu saya makin erat seolah meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan saya akan aman bersama beliau. Otak kanak-kanak saya menerjemahkan saat-saat seperti itulah yang disebut kebahagiaan.

Dan kebahagiaan mungkin juga menjadi milik para tukang ojek payung sore ini. Tukang ojek yang sebagian besar masih berusia belia ini memburu orang-orang yang tidak sempat menyediakan payung sebelum hujan. Bermodalkan beberapa buah payung, mereka dapat mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit untuk menambah pemasukan keluarganya.

Sebaliknya, musim hujan tidak begitu menguntungkan bagi penjual es krim yang berlalu lalang di kompleks perumahan ini. Temperatur udara yang rendah membuat selera pelanggannya lebih condong pada makanan dan minuman yang panas untuk menghangatkan badan. Tak jarang penjual es krim itu 'tutup' dulu sementara waktu atau mencari alternatif barang dagangan lain.

Hujan ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi hujan menjadi berkah bagi beberapa dari kita, tapi di sisi lain hujan bisa saja dianggap sebagai hal yang kurang menyenangkan oleh saudara-saudara kita yang lain.

O, iya. Tadi pagi saya membaca berita di koran tentang bencana banjir yang melanda sebuah daerah di tanah air. Guyuran air dari langit yang tanpa henti membuat sungai yang mengalir di tengah kota itu tak kuasa lagi menampung muatan. Beberapa kepala keluarga harus membawa anak dan istrinya ke tempat yang lebih aman. Murid-murid di beberapa sekolah terpaksa diliburkan karena ruang kelas mereka digenangi air hingga selutut manusia dewasa. Selain kota tersebut, masih ada beberapa kota lagi yang didatangi banjir.

Lalu bagaimana kabar mereka yang berada di ujung utara tanah Andalas saat ini? Tak akan hilang dalam ingatan kita bagaimana dahsyatnya kesedihan menghempaskan penduduk Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara akhir tahun lalu. Daratan luluh lantak akibat goncangan gempa tektonik dan serbuan gelombang besar dari samudera. Banyak sekali anak yang menjadi yatim piatu dalam sekejap mata. Istri terpisah dari suaminya. Pemukiman porak-poranda. Murid-murid kehilangan guru dan sekolahnya. Betapa memilukan! Air mata karena tsunami belumlah kering sempurna, sekarang mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan buruk akibat musim hujan. Banjir mulai mengancam beberapa daerah topografi rendah. Penyakit menular juga sudah menjangkiti kamp-kamp pengungsi. Ya Rabbi, tabahkanlah mereka!

Apakah kita pernah berpikir bahwa Allah berlaku tidak adil karena tega menimpakan musibah besar pada sebagian ummat-Nya, bahkan kepada mereka yang sudah terpuruk sekalipun? Tidak. Jangan sekali-kali berpikir seperti itu! Dia selalu Maha Adil pada ciptaan-Nya. Dia menyayangi ummat-Nya jauh melebihi seorang ibu yang menyayangi anaknya. Ketahuilah, Rasulullah yang sangat dicintai-Nya pun tidak kalah menderita menjalani hidup. Sebelum lahir ke dunia, ayah beliau wafat. Pada masa kanak-kanak, beliau harus kehilangan ibunda dan kakek yang tercinta. Sejak kecil beliau sudah mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini belum berakhir! Masih banyak episode selanjutnya yang diwarnai oleh kesedihan dan penderitaan.

Kita mungkin membenci sesuatu padahal itu sebenarnya baik untuk kita, sebaliknya kita juga mungkin menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk bagi kita. Berprasangka baiklah pada Allah. Apa yang kita peroleh sekarang adalah hal terbaik yang diberikan-Nya sampai saat ini. Percayalah, Allah Maha Mengetahui skenario yang terbaik untuk kita, tak terkecuali saudara-saudara kita yang tertimpa musibah itu.

Teman, ketika hujan turun, adalah suatu hal yang manusiawi jika kita membayangkan nikmatnya semangkok bakso atau segelas minuman hangat. Tapi pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa di suatu tempat dan pada saat yang sama, ada anak Adam yang tidak sanggup lagi memikirkan apapun? Tak satupun kecuali bertahan hidup!

Lihatlah, di negeri seribu satu malam, penderitaan seperti tak kunjung berakhir. Serangan bom mengancam di mana-mana. Mesjid-mesjid tinggal puing. Nyaris semua bangunan rata dengan tanah. Keselamatan jiwa raga penduduknya juga tergadaikan. Duka seakan tak pernah hilang menyelimuti hari-hari mereka.

Saksikanlah, tak hanya orang dewasa, anak-anak Palestina pun harus bermain kucing-kucingan dengan desingan peluru dan senjata-senjata canggih. Dan bukan kabar baru lagi bahwa mereka ikut meramaikan gerakan Intifadhah sejak jilid Al Hijaroh sampai jilid Al Aqsho ini.

Ah, tulisan ini tak akan ada habisnya jika disebutkan satu persatu keadaan mereka yang berada di Bosnia, Chechnya, Sudan, Afganistan, Kashmir, Thailand Selatan, Poso, Alor, Nabire, dan tempat-tempat lainnya.

Di sini, kita mungkin berbahagia. Di tempat lain, ada saudara kita yang mendambakan kebahagiaan, namun tak mampu merasakannya. Allah bukannya tidak ada maksud dengan memperlihatkan musibah yang menimpa mereka itu kepada kita. Sadarilah bahwa Allah sebenarnya mengirimkan sebuah pesan bahwa kebahagiaan mereka akan datang salah satunya melalui kita, saudara-saudaranya. Tidakkah kita ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain? Tidakkah kita menginginkan kesempurnaan iman?

Sunday, 29 May 2011

Ini Pundakku, Mana Bebanmu...

Kemarin sore bus jurusan Blitar- Malang yang saya tumpangi mendadak mogok. Sudah dicoba berkali-kali, namun sopir tetap gagal menghidupkan mesin bus yang sudah sarat penumpang itu. Sebagian besar penumpang berkesah, peluh pun menjadi hiasan seragam semua penumpang. Sepuluh menit sudah kendaraan itu mogok, hingga akhirnya kondektur berteriak minta tolong kepada penumpang laki-laki untuk membantu mendorong bus besar itu.


Dan, tidak lebih dari lima orang yang turun. Saya salah satunya. Kami pun mendorong sekuat tenaga, namun bus hanya bergerak sedikit. Sopir pun mulai keluar suaranya untuk minta tolong penumpang laki-laki yang lain agar membantu mendorong, kemudian beberapa orang lagi turun. Lagi, dengan sekuat tenaga perlahan bus pun bergerak namun mesinnya masih belum hidup. Harus didorong sekali lagi, padahal sudah tiga kali kami mendorongnya. Tenaga pun sudah lah terkuras, saya melihat ke dalam bus masih banyak laki-laki sehat dan bugar berdiri dan duduk tenang.


Ya sudahlah, komando dari kondektur menggerakkan tangan-tangan kami untuk kembali mendorong, dan berhasil. Tidak sia-sia nafas tersengal dan peluh membasahi pakaian, yang penting bus bisa jalan. Ada kepuasan tersendiri saat bus itu melaju kembali sambil berdoa agar tidak lagi mogok, sungguh, tenaga ini sudah habis. Saya yakin orang-orang yang tadi bersama saya mendorong pun merasakan kepuasan yang sama, melebihi kepuasan orang-orang yang hanya duduk dan berdiri tenang di dalam bis selama mogok tadi.


Rasanya, saya ingin sekali merasa egois saat bus itu mogok dengan tetap di dalam dan tak perlu turun untuk membantu mendorong, tapi kalau saja saya menyaksikan orang-orang berpeluh mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong dan saya diam saja, pasti jiwa saya sedang kacau. Bus yang mogok itu memang bukan urusan saya, tapi akan menjadi urusan saya jika saya berada di dalamnya. Jika tidak ada orang-orang yang turun untuk membantu mendorong, apakah bus akan sampai di tujuan?


Saya juga ingin sekali menumpahkan kekesalan saya, tapi apakah dengan marah-marah saja tanpa turun tangan membantu mendorong bisa menghidupkan mesin bus? Seharusnya saya tetap diam karena sudah membayar ongkos bus dan soal mesin yang mati itu bukan tugas saya. Saya bisa saja turun dan menunggu bus berikutnya yang akan membawa saya ke Tangerang. Tapi seandainya saya melakukan itu, pastilah ada bagian otak saya yang sedang terganggu.


***


Seorang mukmin yang baik adalah mereka yang berani berkata, "Ini pundakku, mana bebanmu". Dan bukan mereka yang menjadi beban bagi orang lain. Andai pun ia tak mampu membantu orang lain meringankan bebannya, bantu lah diri sendiri untuk tidak membebani orang lain. Seperti halnya bus yang mogok kemarin, jika tidak mau atau tak mampu membantu mendorong, turunlah dari bus agar Anda tidak menambah berat beban bagi yang mendorong.


Sebuah pelajaran di sore hari

Friday, 27 May 2011

Berbaurlah Tapi Jangan Lebur

L ahiwa Abda namanya. Biasa dipanggil Iwa. Mahasiswa tingkat tiga perguruan tinggi negeri ternama di Ibukota. Tinggal di komplek mewah kawasan Jakarta Selatan. Pergi dan pulang kuliah nyetir mobil sendiri. Lahir dan besar dari keluarga berada. Ekspresi dan penampilannya selalu rapi, bahkan terkesan "licin". Mungkin itu yang membuatnya mudah dikenal. Apalagi ia memang pandai bergaul dan agak 'royal'. Ada darah agama dalam dirinya.


Kakeknya tokoh organisasi Islam terkenal, yang kiprahnya hingga tingkat propinsi di Sumatera. Dan ayahnya, masih mewarisi sebagian darah agama itu. Sejak kecil Iwa mendapat didikan religi. Lumayan. Setidaknya, ia cukup sukses melalui bangku SMA tanpa konflik psikologis yang berarti. Lulus dengan menggembirakan, meski tidak hebat-hebat amat.


Masa-masa awal kuliah mengantarkan Iwa pada dunia baru yang lebih bebas. Syukurnya kondisi itu tak sampai menggoyahkan kepribadiannya. Namun seiring pencarian jati dirinya sebagai orang muda, Iwa mulai goyah. Tak sadar sebuah proses degradasi secara perlahan terjadi. Pelan, bahkan nyaris tak terasakan. Terlampau banyak ia berguru pada kawan-kawannya yang sangat liberal. Mulai dari pola pikir hingga soal definisi moral yang jungkir balik. Di akhir tingkat tiga kuliahnya, banyak kesalahan fatal telah ia lakukan. Itulah yang mengantarkannya kepada situasi jiwa yang sulit ia jelaskan. "Entahlah, saya pun sering bingung dengan diri saya sendiri," ucapnya dengan tatapan kosong.




**********




Gueita, mahasiswa. Susah panggilannya: Giuit. Fakultas dan jurusannya terkait dengan obat. Universitasnya swasta, bonafid dan terpandang. Di kampus, Giuit sangat aktif berda'wah. Karirnya sebagai 'pejabat' di organisasi da'wah kampus juga cemerlang. Ia memang sosok pemikir. Tapi kalau diserahi urusan teknis bisa dipastikan berantakan. Sudah beberapa kali pengalaman berbicara. Karena ia lebih cocok menjadi penyumbang gagasan, pengatur strategi, daripada sebagai pekerja lapangan.


Itulah kelebihan Giuit, juga mungkin sekaligus kelemahannya. Manusia memang unik. Kadang batas antara kelebihan dan kelemahannya sangatlah tipis. Masalahnya, Giuit sulit menyikapi realitas dunia mahasiswa yang banyak bertabrakan dengan keyakinan-keyakinannya. Ia sangat enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan dirinya.


Mulanya ia beralasan untuk menjaga dirinya, takut larut, katanya. Lama-kelamaan, seiring bertambahnya pengetahuan Giuit tentang Islam, ia lebih menikmati dirinya sendiri. Kadangkala ia mengeluh, karena sulit mentransformasikan dirinya dalam dunia mahasiswa secara umum. Padahal, untuk memperoleh lobi dan dukungan yang kuat semestinya ia juga mengembangkan isu-isu yang mencakup seluruh civitas akademika. Setidaknya yang menjadi hajat hidup masyarakat kampus, dari mahasiswanya sampai satpamnya, dari dosen sampai tukang sapunya. "Sering juga saya merenung. Tapi tak mudah meredam perang batin yang luar biasa, tatkala realitas yang saya lihat tak seindah idealisme yang saya yakini," tuturnya.


Secara tak disengaja telah terbangun dalam pikirannya sebuah stereotipe tentang ukuran baik-buruknya seseorang. Sebagian dari ukuran-ukuran itu memang benar, tetapi tak sedikit pula yang salah. Utamanya ketika ia memaksa menyeragamkan standar keshalihan. Nyaris tak memberi ruang untuk keberagaman. Padahal manusia lahir dengan kemampuan beragam. Maka semestinyalah keshalihan orang beragam pula.




**********




Namanya Matenan. Kawan-kawannya sering memanggil Mamat, atau lebih sopannya Bang Mamat. Umurnya masuk kepala empat. Sedikit lagi berkepala lima. Sehari-hari mengayuh sepeda dengan tong-tong berisi tahu. Ia memang pedagang keliling tahu mentah. Mengontrak di kawasan Manggarai. Anaknya tiga, yang tertua kelas tiga SMP. Kawan-kawan Bang Mamat beragam. Dari sebuah desa di Jawa Tengah ia pergi bertujuh ke Jakarta. Empat orang berdagang tahu, sisanya lagi berjualan sayur. Beberapa minggu lalu, Bang Mamat menemukan sebuah tas berwarna hitam. Di dalamnya ada dompet dengan uang tiga ratus ribu rupiah, kartu identitas, beberapa kartu nama, dan dua pas photo wanita berjilbab. Di tas itu juga ada beberapa buku catatan, surat-surat berkop sebuah perusahaan, tempat bedak kecil Mustika Ratu, serta handphone.


Apa yang dilakukan Bang Mamat ? Bersusah payah ia mencari alamat pemilik tas itu. Tiga kali ia datang, dan baru yang ketiganya ia berjumpa dengan pemiliknya. Ternyata seorang muslimah yang photonya ada di dompet itu. Dengan tegar ia kembalikan semua barang-barang itu. Seorang tetangganya sudah menawar setengah juta untuk handphone itu. Tetapi Bang Mamat tetap gigih. Ia mencoba mengajarkan kejujuran kepada kawan-kawannya. Meski untuk itu tidaklah mudah.


"Ini bukan milik saya, saya harus kembalikan kepada yang punya," begitu kenangnya. Ketika mengembalikan tas itu, ia ditemani anak tertuanya. Nampaknya ia juga hendak mengajarkan kejujuran kepada anaknya itu. Kala wanita pemilik tas itu hendak memberinya tanda terima kasih, Bang Mamat bersikeras menolak. "Biarlah Allah yang membalas. Mbak doakan saya saja," begitu jawabnya. Akhirnya pemilik tas itu memaksa anak Bang Mamat untuk mau menerima tanda terima kasihnya.




**********




Tidak mudah memang, bergaul dengan kehidupan masyarakat yang sangat beragam. Apalagi bila pada saat yang sama kita juga dituntuk tetap EKSIS, SURVIVE, dan tetap ISTIQOMAH. Ibarat berenang di air asin, kita seperti berjuang untuk mengapung dan tidak tenggelam, karena di situlah letak kehidupan kita. Tetapi, pada saat yang sama kita dituntut bagaimana tidak turut menjadi asin.


Logika ini berlaku untuk setiap muslim, untuk setiap aktifis da'wah, juga untuk setiap orang yang ingin menyeimbangkan antara eksistensi dirinya sebagai muslim dengan eksistensinya sebagai makhluk sosial. Menyeimbangkan antara tuntutan dirinya sebagai hamba Allah dengan tuntutan dirinya sebagai anggota masyarakat. Baik masyarakat kecil di keluarganya, masyarakat sedang di lingkungannya, atau masyarakat besar di dunia ini. Ya, itu merupakan tuntutan menyeimbangkan antara idealita dan realita. Karena alam realita memiliki sunnahnya sendiri, sebagaimana alam idealisme memiliki sunnahnya sendiri.


Logika ini juga berlaku bagi komunitas apa pun, bagi sebuah golongan seperti apa pun. Apalagi bagi sebuah organisasi da'wah. Itu pula yang mengantarkan kita kepada logika bahwa dunia ini sangat beragam isinya. Di tengah keberagamannya itu kita hidup. Agama ini juga tidak mengajarkan agar kita membangun sebuah eksklusivisme yang sempit. Kalaulah itu yang dimaksud Allah dalam penciptaan manusia ini, tentu apa arti firman-Nya yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa dan bersuku untuk saling mengenal.


Keberagaman isi dunia menjadi sunnah tersendiri bagi kehidupan ini. Ia semacam ekosistem yang saling kait-mengkait, tunjang menunjang, dukung mendukung. Orang miskin ada untuk menjadi tempat bersedekah bagi orang kaya. Orang bodoh adauntuk tempat beramal bagi orang-orang pintar. Orang besar ada untuk membantu orang-orang kecil. Manusia, dengan beragam suku, bangsa, ras, bahasa, budaya, dan cita rasanya, adalah khazanah kehidupan yang niscaya ada.


Hanya saja, seperti kisah tiga orang di atas, Iwa, Giuit, dan Bang Mamat, seperti itu pula kira-kira tipologi seorang muslim dalam berinteraksi dengan belantara kehidupan dunia ini. Ada yang luntur dan lebur, ada yang teguh tetapi mengambil jalan yang kurang bijak: menutup diri dan lebih suka pada klaim-klaim. Dan, yang ketiga, mereka yang tetap tegar di tengah kondisi apa pun.


Segalanya berpulang kepada kita masing-masing. Karena tuntutan Allah agar kita menjaga diri dari api neraka, misalnya, juga diiringi dengan perintah menjaga keluarga: masyarakat terkecil kita. Dalam lingkup masyarakat yang lebih besar, Allah mengancam orang-orang yang masa bodoh dengan kondisi masyarakat yang rusak. Kelak, bila Allah menurunkan adzab-Nya, orang-orang baik yang tak peduli dengan kerusakan itu justru yang pertama diadzab.


Kita memang harus berbaur dengan masyarakat, tetapi tidak melebur dalan kerusakan mereka.


Wallahu'alam bishawab.

Popular Posts